Friday, 1 March 2013

Melukis Hujan


Untukmu yang mencintai hujan…

Lagi dan lagi. Aku merasa ingin muntah setelah membaca surat-suratnya yang tak pernah sampai itu. Mataku kini tersudut pada ending tulisannya yang sangat rapi berjejeran. “Anata ga daisuki. Kokoro naka de anata mo dake[1].” Sungguh bagiku sangatlah terdengar klise.
Hari ini aku dan dia kembali dipertemukan dalam percakapan silang. Kita saling merapalkan satu persatu impian yang sesak membanjiri pikiran. Perlahan menyelipkannya ke lembaran daun-daun kering. Warnanya coklat. Aku sangat menyukai warna itu. Aku pun mengambil kuas dan menggambar langit dengan warna cokelat di kanvasku. “Kenapa cokelat?” tanya perempuan Jawa yang merasa dirinya tak memiliki bulu mata lentik itu dengan logat british yang dibuat-buat. Aku melirik perempuan itu dengan tatapan mulas dan ingin muntah sama seperti saat membaca surat-surat dalam bahasa yang tak pernah saling kita mengerti satu sama lain.
Kembali ke pertanyaan yang dilontarkannya tadi. Harusnya dia tahu dan tidak perlu menanyakannya lagi. Apalagi logat british yang keluar dari bibir tipisnya itu membuat aku sangat ingin segera menumpahkan sebotol minyak kayu putih ini ke ke rambut sebahunya yang hitam pekat. Dia memang manusia yang terawat. Tapi, cukup hari ini aku tidak ingin berdebat dengannya. “Aku bosan dengan biru,” jawabku dengan nada datar.
Senja mulai menyibakkan elegant warnanya. Warna yang sangat disukai oleh perempuan di sebelahku itu. Aku tidak pernah mengerti dan tidak pernah mau mengerti untuk alasan apa dia sangat menyukai warna senja. Pun dia yang juga selalu menertawakanku dengan cokelatku. Aku menggilai Andy Lau dia menggilai Shah Rukh Khan. Aku mencintai kopi dia mencintai teh. Aku lebih memilih menghabiskan weekend-ku  untuk pergi ke bioskop menonton film action, sedangkan dia lebih memilih bercumbu dengan pena, hujan dan dongeng yang sama sekali tidak aku “banget” itu. Entahlah. Bagiku dia adalah perempuan paling gila yang pernah aku kenal. Dan untuk entahlah juga kegilaan dan ketidaknyambungan inilah yang justru membuat kita menjadi sahabat dekat. Tuhan memang selalu punya rencana dan alasan untuk mempertemukan kita, bukan?
Sejenak hening. “Aku sudah lama tak melihatmu menulis sajak.” Aku memutuskan untuk memulai percakapan.
Sudah seminggu dia tak membaur bersama pensilnya. Aku hanya memperhatikannya dalam diam.
“Aku sedang patah hati,” jawabnya dengan senyum yang mengembang.
“Kau mengucapkan patah hati seperti baru mendapatkan hadiah kuis.” Setengah mati aku menahan tawaku.
Bagaimana mungkin orang yang patah hati bisa menampilkan raut ceria dan senyum maut seperti itu. Ini sudah salah kaprah dan di luar batas pemahaman.
Dia menangkap keganjilan dalam wajahku. “Mengelola rasa patah hati adalah salah satu kemampuanku,” sahutnya sambil menepuk-nepuk bahuku.
“Jelas-jelas si rambut gondrong itu telah mencampakkanmu. Kau tak lebih dari tempat sampah bagi lelakimu itu, tapi kau selalu menempatkannya menjadi dewa hati.” Aku pun sekarang semakin yakin dan memperkuat asumsi yang pernah aku rakit dulu. “Ada tikus pengerat yang mengerikiti otaknya sampai membuatnya konslet.”
“Namanya B-A-M-A.” Terdengar ada penekanan di sana. “Bukan si rambut gondrong.” Tambahnya dengan memanyunkan bibir tipisnya. Inilah yang membuat dia semakin terlihat seksi.
“Inilah cinta sejati. Aku mencintainya tanpa pernah ia minta. Toh, ceritaku belum sampai pada titik. Mungkin masih koma. Apa yang akan terjadi esok atau lusa, kau tidak pernah tahu kan?” Sahabatku itu berceloteh tanpa jeda. “Seperti menebak langit abu-abu.” Dia mengangguk tanpa ada keraguan. Aku tahu dia hanya pura-pura kuat dan ceria.
“Aku sudah hafal adegan yang kau perankan itu. Aku tahu betapa setiap malam bantalmu basah karena hujan.” Aku mendumel dalam hati.
Aku mendekatinya. “Maukah kulukiskan hujan?”
“Kau tahu warnanya?” bening matanya memesona cakrawala.
“Mungkin seperti menebak langit abu-abu.”




[1] Aku sangat menyukaimu. Di dalam hatiku juga cuma ada kamu

Dear Rama


Aku selalu menghabiskan soreku di Pantai Melawai. Di sana aku bisa melihat sunset terbaik di Balikpapan. Tetapi ada sesuatu yang tidak biasa dengan soreku kali ini. Perempuan bermata bulat itu, aku seperti pernah berpapasan dengannya. Tapi di mana? Aku mengamatinya beberapa detik. Dia tampak cantik dengan dress selutut yang berwarna senada dengan kulitnya. Putih.
“Kau tidak ingat denganku?” tanyanya seperti ingin menelanku. Aku mulai tidak suka dengan mata bulatnya.
Kali ini bibirnya semakin siap untuk memanah. Kata-katanya siap untuk dilayarkan, “Jangan membuatnya jatuh cinta padamu.” Aku sama sekali belum tahu ke mana arah pembicaraannya. Aku menunggu sekuel kalimatnya. Tapi dia sejenak bisu. Matanya menerawang jauh ke arah laut yang biru.
“Kamu cantik dan… ”  Suaranya memantul ke permukaan laut. Sengaja digantung. Kemudian pamit dengan mata berkaca-kaca.
Cantik? Dia bahkan tak pernah bilang seperti itu padaku. Aku hanyalah tukang dongeng baginya.

***
Can you explain this all to me?

Sent to: Rama

Resah terasa tak berujung. Hari ini aku membawa pulang sederet pertanyaan yang hanya bisa kureka-reka sendiri jawabannya. Tentang siapa perempuan bermata bulat itu. Kenapa dia menginginkanku untuk menjauhi Rama?
***
Aku mengerti, akhir-akhir ini Rama memang sedang sibuk dengan konsernya. Aku pun paham benar apa arti kata sibuk bagi seorang pianis hebat sepertinya. Setelah kuhitung-hitung sudah dua minggu ini dia tidak pernah kelihatan. Dia tidak pernah lagi menemaniku melihat sunset. Pun pesan singkat yang kulayangkan padanya tak ada satu pun yang berbalas. Termasuk pesan yang baru saja aku kirim. Sebagai gantinya, perempuan bermata bulat itu. Aku harus mencari tahu siapakah dia sebenarnya.
Lalu seperti biasanya, aku menceritakan semuanya pada Mama.
“Bagaimana mungkin dia memasukkanmu dalam daftar sibuknya?” Mama melirikku dengan tatapan penuh arti. Aku semakin curiga ada yang tidak beres. Mama pasti tahu tentang semua ini. Tentang perempuan itu. Tentang Rama yang entah ke mana. Tentang keganjilan yang tak pernah kuinginkan ada.
Tidak ada waktu untuk berbasa-basi. Aku menyerbu Mama dengan sederet pertanyaan yang berseliweran di benakku. Getir sekali mendengar jawaban Mama. Ternyata sebelum mendatangiku, perempuan bermata bulat itu telah lebih dahulu mendatangi Mama.
Aku sangat kesal dan ingin sekali menyanggah kata-kata Mama. Bagaimana mungkin Rama berbuat setega itu padaku?
“Namanya Laila,” tegas Mama. “Rama sudah beristri sayang.” Sambungnya.
Aku terkulai. Sesak. Perih. Kecewa. Marah.
Ponselku berdering. Sebuah pesan masuk.
I’ll explain to you as soon as possible. Setelah konser ini selesai. Aku akan pulang, untukmu. I love you.

Sent by: Rama
Aku langsung membalasnya.
Sekarang tidak lagi perlu. Aku pamit. Semoga bahagia.

Sent to: Rama

Diam-Diam Mencintaimu (2)


Perempuan berbulu mata lentik itu tak henti-hentinya membolak-balik buku dongengnya. Dari depan ke belakang. Dari belakang ke depan. Begitu seterusnya. Terpancar ada raut gelisah menyelimuti benaknya. Sudah satu jam ia duduk manis di depan komputer memandangi halaman biru yang menampung milyaran curhatan orang yang lebih banyak tak dikenalnya daripada yang dikenalnya. Ia terlihat kalang kabut karena kerlip hijau kecil tak kunjung juga melingkari satu nama itu. “Dia hari ini tidak online,” pikirnya.
Ia mulai mengetik dan memperbarui status facebook-nya. “Aku sedang berharap, tapi seperseribu dari waktu yang kuhabiskan malah berujung pada lamunan.” Ia menekan post. Dengan linglung, ia berjalan menuju pinggir jendela kemudian mengamati rintik demi rintik air yang tertambat di kaca. Sejenak kemudian, dengan agak terkejut ia mendapati sebuah alert dari Yahoo Messenger. Ia kembali menghampiri komputernya.
Ari789: BUZZ!
Paras muka perempuan itu berubah seketika. Ada sekelumit getar yang bersorak gembira.
Putri_bintang: Kemana aja? Kangen taaauk :p
Ari789: Masih di kantor. Sibuk sama maket. Aku juga kangen. Kangen sama titik-titik air segera menyapa Balikpapan :D
Putri_bintang: Aku lagi sama apa yang kamu kangenin nih
Ari789: Titip salam ke dia kalo gitu ya
Putri_bintang: Ke aku?
Ari789: Kalau yang itu sih langsung dilamar aja :p
Semua berawal dari sapaan. Pertemuan dua hati yang tak pernah disengaja dan tak pernah diinginkan sebelumnya. Tapi, bukankah pertemuan kita dengan siapa pun sudah menjadi bagian dari skenario yang sudah dirancang-Nya?
Pipi perempuan itu bersemu merah, bukan karena blush on. Tergila-gila pada seorang yang maya? Ah… entahlah ia sendiri tidak tahu.
***
Ben termangu mendengar celoteh demi celoteh perempuan di hadapannya itu. Perempuan yang sangat ia puja, ia kagumi, ia banggakan dan ia gilai hingga batas gila habis sudah.
“Aku akan segera bertemu dengannya. Lusa aku ikut kamu ke Balikpapan ya.”
Ada sebersit cemas yang menjalar cepat ke hati Ben. Bukan karena cemburu. Tetapi lebih dari itu. Hal yang sungguh sangat sulit dijelaskan. Ben tidak tahu harus memulainya dari mana.
“Ben, kamu dengerin aku nggak sih?”
“Put, kalau semisal ternyata aku adalah dia apakah kamu juga akan tetap mencintaiku seperti kamu mencintai dia?” dengan terbata-bata Ben melontarkan pertanyaan itu.
“Ngawur kamu, Ben.”
***
Langit tersengal-sengal mencoba membendung mendung
Tak boleh ada secuil pun celah bagi kabut kepedihan
Apalagi membiarkannya tergerus petir lalu kehilangan makna
Bukankah hanya butuh satu detik untuk menjadi asing?

Putri menyemprot Ben habis-habisan, seakan tiada lagi ampun bagi sekotak permainan yang dirancang oleh sahabatnya itu. Permainan hati. Hati bukan untuk dipermainkan.
“Memang inilah kenyataanya Put. Aku mencintaimu.”
Cukup Ben. Cukup.
“Aku tidak pernah bermaksud mempermainkanmu. Aku tidak seperti yang kamu tudingkan. Aku tidak pernah merancangnya. Skenario itu. Ah… aku tidak bermaksud membohongimu.”
Cukup Ben. Aku tak mau dengar apa-apa lagi.
“Put, Maaf..” Ben meraih tangan Putri mencoba meyakinkan.
“Ini sinting. Ini gila. Lelucon apa ini Ben? Ari adalah Ben. Ben adalah Ari. Ini tidak mungkin. Kamu pasti bohong. Bilang kalau kamu bohong!” Bentak Putri dengan tatapan tak percaya.

Diam-Diam Mencintaimu (1)


Dia bicara tanpa spasi. Tanpa spasi, buatku tak mengerti. Dia melangkah tanpa jeda, padahal aku butuh jeda untuk memahami. Dia menciptakan dongengnya sendiri tanpa pernah membiarkan aku masuk dalam dunia yang sering dia lamunkan. Aku bisa apa?
“Biar kuantar kamu pulang.” Aku mendekatinya. Dia masih asik berkutat pada langitnya. Entahlah apa yang dia selalu cari di sana. “Aku tak cukup mampu mengubah warna langit senja menjadi biru.” Begitu selalu ucapnya. Aku tak cukup paham. Selalu butuh usaha ekstra untuk mencerna apa yang dia ucapkan. Apa yang selama ini dia lamunkan.
“Ben?” dia memanggilku dengan halus. Sehalus sutra ditenun ulat. Aku selalu suka cara dia mengucapkan namaku. “Namaku Buen, bukan Ben.” Aku selalu membatin. Tapi dia selalu membuang huruf “U” yang terselip dalam namaku. Dan hanya mau memanggilku dengan Ben. Bukan Buen. Tak apa-apa. Tak masalah. Sepanjang itu terucap dari bibirnya, aku sama sekali tak keberatan.
“Kamu tahu mengapa aku sangat suka biru?”
“Karena kamu suka laut.”
Dia tersenyum. Manis sekali. Melebihi gula. Ah… aku sangat suka senyumnya. Bulu mata lentiknya. Hidung mancungnya. Rambut hitam sebahunya. Caranya menyeruput kopi. Kebiasannya menggosok gigi lebih lama. Mendengarkan khayalan-khayalan gilanya sampai omelan berjam-jamnya kala mendapati bulpennya hilang, ban sepedanya bocor sampai ketika langitnya hujan.
“Lebih dari itu, Ben.” Dia menempelkan kedua tangannya ke pipiku. Dua detik. Tapi sangatlah berarti. Dia menatapku gemas dan seperti biasanya dia akan sibuk menjelaskan panjang lebar. Inilah bagian yang paling aku tunggu-tunggu di sepanjang kebersamaanku bersama dia. Aku bahkan tak pernah bosan mendengarkannya bercerita semalam suntuk.
Sejenak kemudian, dia melontarkan pertanyaan yang tak pernah kubayangkan akan terlontar dari bibir mungilnya yang dioles tipis lipstick berwarna peach itu.
“Kamu pernah jatuh cinta, Ben?”
Aku tidak segera menjawabnya. Diulanginya pertanyaannya sekali lagi seakan takut tiba-tiba aku terserang virus budek.
“Saat ini,” aku menjawab ringan.
“Sudah diungkapkan?” dia bertanya lagi.
“Aku takut dia akan menjauh saat tahu aku mencintainya. Begini saja sudah cukup. Asal bisa bersamanya.”
“Kamu takut jatuh cinta sendirian?” kali ini dia menertawakanku. Menertawakan apa yang sebenarnya sangat tidak lucu.

Gigil Gerimis


Aku tidak pernah suka malam, ada mimpi buruk di bawah bantal tidur yang mampu menyita menit demi menit yang kupunya untuk menahan sengguk yang membuatku tersedak ke jurang kecewa. Padahal, aku ingin tidur nyenyak tanpa ada racauan petir atau dering telepon.
Ruangan serba putih ini mengganggu mataku. “Kenapa bukan merah atau merah muda?” aku menatapnya dengan tatapan iba.
“Istirahatlah,” Bara membujukku seperti menasihati anak kecil yang nakal.
Demi apa pun, sebenarnya aku sudah ingin ambruk ke dalam pelukannya. Menangis sejadi-jadinya di sana. Sosok yang telah lama kurindu dan kuimpi-impikan setiap malam kini hadir di hadapanku. Lengkap dengan segala pesonanya. Cepat aku mengatur pernapasan. Mengatur perasaan. Berusaha membendung rasa rindu yang membuncah bak gelembung sabun yang sudah ingin pecah ke permukaan wajah tampannya. Sekuat tenaga kutahan sengguk, ada gerimis tipis yang saling bicara di dalam hati. Runtuh bersama ingin yang tak mungkin. Kenyataan memang begitu. Tidak pernah sejalan dengan bulir demi bulir keinginan yang tumpah pada lembar catatan.
Ada sebersit ngeri yang benar-benar mengerikan. Drama ini. Aku terperosok dalam alurnya. Aku menjadi pihak yang lemah, yang tak memiliki bargaining power. Sekarang mataku tertumbuk pada perempuan berjilbab itu. Perempuan yang tak lagi asing bagiku. Namanya Cahaya, tunangan Bara. Aku mencintai Bara. Bara mencintai Cahaya. Begitulah kenyataannya. Pahit. Sepahit kopi tanpa gula.
“Bagaimana keadaanmu Tar?” tanya Cahaya.
“Kalian tidak usah terlalu memikirkanku. Aku akan baik-baik saja.” Dan nyatanya memang, meracik senyum hangat tak pernah lebih mudah dari menakar gula untuk dituangkan dalam secangkir kopi.
Sebelum cahaya kuberi kesempatan untuk meluncurkan berbait-bait basa-basi yang hanya bisa membuat cuaca semakin tidak bersahabat. Aku memilih untuk memuntahkan satu pertanyaan yang telah mengerat dan meninggalkan beban berat yang mengikat. “Jadi, kapan kalian akan menikah?” gerimis jatuh satu persatu membasahi hatiku. Tapi tetap dengan sekuat tenaga, aku berusaha menyunggingkan senyum yang menawan dari yang paling menawan.
“Bulan depan. Pokoknya kamu harus, wajib, dan musti datang ya, Nona jaipong.” Bara mengacak-acak rambutku. Dia memang begitu. Tidak pernah sekali pun mau menyebut nama asliku. Terlalu biasa katanya.
Aku masih ingat saat-saat pertama kali kita bertemu dulu dalam sebuah gebyar festival tari di Bangkok. Kebetulan aku adalah salah satu delegasi dari unit tari kampus untuk mengikuti acara tersebut. Aku menarikan tari jaipong. Dia fotografer.
Perjalanan singkat di Bangkok menjadi sebuah titik awal dimana sebuah perjalanan baru siap untuk ditulis dalam sejarah hidupku dan hidupnya.
“Hai, Nona jaipong. Your performance is really amazing.”
“Nona jaipong?” aku mengernyitkan dahi.
“Kenalin, Bara.”
Aku tertawa kemudian membalas uluran tangannya. Memperkenalkan diriku dengan semanis dan sesopan mungkin. “Mentari.”
Aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama sampai aku sendiri mengalaminya.
Tak peduli apakah ini luka atau bahagia
Biar kamu tahu
Rasa sedang tidak bisa berkompromi
Dan tertawalah

Pelangi melengkungkan garis warna
Yang mana warnamu?
Semoga aku
Karena mencintai adalah pilihan

Bangkok, Desember 2012

Perlahan, ingatan demi ingatan menyeruak ke permukaan. Mengoyak pola awan. Kemudian diusik mendung. Lalu menjelmalah gerimis disusul deras hujan yang mengoyak curahan kasmaran yang dirindukan tanah.
Aku sendiri sering tidak mengerti. Mengapa banyak orang menyebut gerimis itu manis bahkan romantis? Mengapa banyak orang beranggapan bahwa hujan itu indah bahkan mempesona? Bagiku, gerimis tetaplah gerimis. Dan hujan tetaplah paku yang hanya menancapkan luka dalam setiap guyurannya.
“Malah ngelamun nih bocah.” Bara memorak-porandakan ragam kenangan yang terangkum dalam ingatanku. Aku mulai dirayapi cemas yang mendalam. Cemas akan mimpi-mimpi buruk yang menjadi nyata. Ketika skenario perjalanan ini membuatku jauh darinya. Padahal aku masih ingin. Memandang bening matanya. Terbius pesona senyumnya. Meringkuk dalam dada bidangnya. Aku mencintainya. Sangat mencintainya.
“Kita berdua pamit dulu ya, Nona jaipong. Besok kita ke sini lagi.”
“Kita? Cukup kamu aja, Bang. Jangan bawa dia.” Aku membatin.
Gigil gerimis pun semakin bersemangat merembesi kepingan-kepingan lara yang menghimpit dada.

Penawar Pilu


Aku terperangkap dalam kotak musik, membaur bersama bunyi yang hanya bisa membuat batin tersiksa. “Sampai kapan kamu akan begini?” dia menatap mataku lekat-lekat, digesernya tubuhnya untuk lebih dekat padaku.
“Butuh mengalami untuk mengerti Dik.” Mendengarnya, dia semakin ingin mengomel padaku. Aku yang menurutnya buta karena cinta yang hanya kureka-reka sendiri. Hatinya sudah ingin berontak dan dirinya sudah ingin minggat.
“Dika…,” panggilku saat dia sudah ingin beranjak pergi dari sisiku. Aku sama sekali tak berniat menyinggung perasaannya. Aku tahu bagaimana perasaannya padaku. Dia sangat perhatian. Perhatiannya melebihi siapa pun yang pernah aku kenal di dunia ini.
Lelaki yang tak asing lagi dalam hari-hariku itu menoleh. “Kamu pikir aku mau terjebak dalam skenario perjalanan memuakkan ini? aku lelah dan ingin muntah.” Aku sibuk meracau sementara matanya malah menatapku lucu.
Dika memegang pundakku mencoba meyakinkan. “Tolong dengarkan aku kali ini, Ar.”
Aku hanya terdiam menunggu dia meneruskan kata-katanya. “Kau hanya perlu menghanyutkannya ke kali,” ucapnya menginfeksi cemas yang terjerembab kaku di ruas-ruas jalan yang basah, sisa hujan kemarin.
Perih menusuk mataku tanpa jeda, tanpa irama, tanpa ada negosiasi apalagi aliansi. Ini sinting. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa dugaanku melesat?
“Aku sangat mencintainya,” gumamku pelan.
“Kamu pernah bertemu dengannya?” aku menggeleng. “Kamu pernah melihat gambar rupanya?” aku menggeleng lagi. Dia sibuk bertanya. Aku sibuk menggeleng. Puncaknya, dalam percakapan terakhir yang dilontarkannya, dia menaikkan intonasi bicaranya. Aku tak pernah melihat Dika semarah ini.
“Kamu buta. Kamu hanya mencintai ilusi. Kamu pelihara beban pikiran yang sebenarnya tidak pernah perlu.”
Aku menantang matanya. “Aku tahu. Aku yakin. Aku percaya. Biar pun kedatangannya hanya lewat mimpi. Cepat atau lambat dia akan menghampiriku. Di sini. Di halte ini.” Aku berusaha membela diri.
“Kekasih impian? Buku dongeng? Pangeran berkuda putih? Apa lagi? Kamu bukan hidup di dunia khayal Ar. Kamu hidup di sini. Di dunia bernama realitas. Di dunia, tempat kamu harus membatasi bahkan menyudahi semua khayalan-khayalan gilamu itu.”
Rasanya sudah ingin kusumpal mulutnya dengan bongkahan es agar membeku. Aku tak tinggal diam. Sudah menjadi kebiasaan kami untuk berdebat masalah yang tak bisa dipahami oleh siapa pun ini. Setiap sore. Di waktu yang sama. Di tempat yang sama. Kami sudah menjalani ritual ini selama 15 hari, resmi semenjak aku mendapatkan mimpi itu. “Khayalan gila? Sejak kapan khayalan itu dibatasi?”
“Sejak kita belajar teori, konsep dan paradigma.” Dia menjawab cepat.
Perlahan sesakku mulai mengabur saat tangannya mengusap lembut pipiku seakan tak membiarkan ada setetes pun rubungan air mata di sana. “Untuk apa jauh-jauh mencari penawar pilu,” bisiknya merdu.
“Tiara, Cuma aku yang mengerti kamu. Bukan dia. Dia yang tak pernah memikirkanmu. Dia yang tak pernah ada. Dia yang hanya kamu cipta dalam alam lamunanmu.” Dika berlutut di depanku. Percakapan sore itu selesai.
Aku merenung. Lama. Berbulan-bulan. Berbulan-bulan itu pula aku tidak bertemu dengannya. Ternyata aku rindu. Aku rindu pada Dika, sahabatku. Aku rindu dengan dia, manusia paling rasional yang pernah aku temui.
Mulai sekarang aku sudah kembali menjadi aku. Bukan aku yang terjebak dalam kotak musik itu. Dan aku sadar, memang ada dunia yang indah di sekelilingku. Ada langit biru, pelangi, debur ombak, pasir putih, senandung cinta, dan dia, yang selalu ada untukku, bahkan di saat racauanku naik level. Aku pun mulai sepakat dan membenarkan segala ucapannya yang dulu. Aku hanya tidak perlu larut dalam pilu yang sedetik pun tidak pernah memikirkanku balik.
“Jadi, maukah membangun aliansi bernama penawar piluku? Jika mau, jabatlah tanganku.” Aku memutuskan untuk menemuinya lebih dulu. Bukan lagi di halte. Tapi, di biro konsultannya.