Sunday, 22 November 2015

Orasis


Kunamai kau selembar kabar yang diselubungi gentar, lalu memudar kepanikan. Mengartikan sepi yang ditanak pagi dalam sekat langit pekat, rindu-rindu berkarat. Tetapi hari ini rekah waktu masih berdering membangunkanmu. Jika kau tak ingin bermain-main, maka renungkanlah hal-hal lain. Akan ada suara-suara sederhana, yang lembut menuju kabut, yang hanyut dalam denyut, yang menguap dari tanah menjadi hal-hal yang tak mudah; yang membuatmu mendengar dan merasakan, tanpa perlu memandang, seperti apa warna hujan. 

Kita adalah kesungguhan yang dikisahkan tetapi lebih sering mencurigai. Awan hitam di antara pepohonan yang rindang, menggambarkan sebiji nyeri yang bergerigi. Kau lamat-lamat pergi, mengantongi siang yang bising yang lama-lama asing. Aku termangu menyimak perangaimu yang getir, yang tidak habis kupikir. Pada sepasang mata yang berkata-kata, riak begitu jujur, membasuh sekujur geram paling muram, memunguti temaram dan kerumitan. Bahagia adalah alasan utama. Tetapi jika kau masih tak percaya, kau bisa tanyai ia.

Kumaknai ia sebagai jendela berbahasa, keunikan lukisan, sajak menggemaskan, petualangan menarik, atau apa saja yang memesona, yang bisa membuat kau-aku berkaca, berkaca-kaca. Kelak perkara-perkara saling melingkari jawabannya juga sesenggukan itu, ramu dalam pasu yang berlampu. Kau tak lagi jemu yang menyaksikan langit abu-abu, aku tak lagi pilu yang menyusuri jalanan berbatu. Ia adalah benderang yang memandu pulang sebelum kau-aku benar-benar larut dalam buram.

Bojonegoro, November 2015
@rintikkecil

Tuesday, 17 November 2015

Lanang Dan Sastra


Luka-luka kerap tidak mudah diterima beberapa umpama. Aku setelah ini akan bercerita perihal perih yang tak luruh-luruh, menggantungkan bilah-bilah tanya, yang bertanya-tanya pada air mata. Nanti kita akan ziarahi, serentet peristiwa istimewa, yang menggenangkan kita pada suara-suara, cuaca-cuaca, dan sendu hujan dalam sebuah pelukan. Ada almanak yang mencatat kelak, jejak-jejak pada sesuatu yang beranjak, melautkan bayang meluaskan pandang. Namamu adalah yang membuatku bertahan, sampai puisi ini kutuliskan, untuk kaubaca pada pertemuan bermakna kita. Garis rentang dalam bimbang seakan hilang perlahan-lahan, jauh menepi, menjadi bebuih.

Serupa semesta, matamu mengandung rahasia. Ayu yang membuat awan-awan begitu rindu. Sayang, aku ingin memelukmu, melihatmu tumbuh penuh kisah yang tak pernah kekurangan cara memaknai anugerah. Tidak ada yang mampu melemahkanmu, mengapungkanmu dalam pilu, atau membutakanmu dalam sunyi, tanpa aba-aba darimu sendiri. Remuk tak selalu berarti sia-sia tetapi daya yang bisa kau muarakan menjadi guna yang cukup untuk menguatkanmu lebih hidup, menerjemahkan hidup. Aku bersamamu, menjadi pengingat dan penyemangat, yang menunjukkan bulan begitu lentik, yang akan terus memastikan malam begitu cantik; hingga tak ada rangkai penat yang menyelinap, ke tubuh lelap.

Bojonegoro, 17 November 2015 (09: 23)
Dari perempuan yang selalu ingin melihatmu bahagia
@rintikkecil

Monday, 16 November 2015

A Late Letter to Lanang

It must be October, but it’s already November. Sorry for my late letter. Lanang, somehow you know that this world is full of uncertainty and full of foul men. Somehow you know that I don’t want to be a fool. “Have you found a man who will give his time to care and love you everyday? How about if you can’t find him?” If I can’t find him, I’ll just marry my job, Lanang. But, the good news that u need to know is, I think I already found him. That man, the one who will always try to win my heart, just like the first time he try to do. The one who will read a fairytale for me before I go to sleep, the one who will completely open to listen and discuss everything with me, the one who will see me deeply, the one who will stand with me to watch the sunrise till the sunset come, the one who will stay with me no matter how hard to understand me, the one who will never tired to convince me so that I can trust my heart to him. Am I so fortunate, Lanang?

I don’t even know, but whenever I talk to him, I don’t even want to stop to talk. There must be so much things I want to share with him. About my life, my dream, my happiness, even my fear, my tear, my scar as well. I just feel I will be fine whenever with him. I must be fall in love with him, deeply and straightforwardly. Lanang, if he is a poem, he will always be my favorite, the most interesting and breathtaking. And if he is a song, he will always be the sweetest and loveliest. He can never be died, in my head. Can you believe that?

Lanang, I hate to say this yet he is the one who I can’t go a day without I am thinking about and I hate to say I love the way he say ‘good morning’ or ‘good night’ to me. You know what does it mean? It means that he is thinking of me before he go to sleep and remember me after he wake up every morning.  Ah, I want he knows that he means so much to me and how about me? for him? I hope I can also mean the whole world to him. “You have not to expect anything back.” So, have I need to be afraid? To expect too much? Yet as far as I can remember, my day is much prettier when I was with him. After all, I suppose that every each of us need a home, a home where the dweller can never have any enough word to say ‘I want to leave’, a home where the dweller can always have any good word to say ‘I want to come back’.  Can you agree with me?

...
With Love,
@rintikkecil  

You can also read my previous letter to Lanang...

Sunday, 15 November 2015

Waktu yang Paling Jujur (2)

Namaku Dimas, tapi ia lebih suka memanggilku Dim. Aku anak seni rupa sedang ia Hubungan Internasional. Sudah tentu seni bernegosiasi perempuan itu handal sedang kemampuanku menggambar rupa, yang banyak warnanya, hanya bisa dikatakan ‘sekadar lumayan.’ Entah lelucon macam apa yang membuat aku dan ia bisa berteman, ya berteman sebagai teman cerita, begitu ia menamainya.
“Aku juga memiliki teman makan dan teman travelling, asal kau tahu saja,” begitu ucapnya pada saat kita latihan untuk sebuah pementasan. Ya, aku dan ia mulai memutuskan untuk menjadi teman, teman cerita lebih tepatnya semenjak kita resmi memiliki banyak urusan dan alasan untuk berada di ruang teater yang sama. Dari sekian banyak anggota yang bergabung di organisasi kampus ini, aku sendiri tidak mengerti mengapa harus ia, satu-satunya perempuan aneh yang menjadi temanku bercerita. Mungkin benar adanya, bahwa selalu ada alasan untuk pertemuan kita dengan siapa saja.
Nyatanya, aku bisa nyaman bercerita apa saja dengannya. Aku bisa tahu banyak hal setiap kali bercerita dengan perempuan itu, kecuali hal-hal tentang dirinya.
“Ingat kita hanya teman cerita. Kita hanya butuh untuk sekadar saling mengetahui nama saja. Kita bisa membicarakan apa saja, kecuali hal-hal yang lebih jauh tentang diri kita,” begitulah perkataannya.
“Aturan macam apa itu?” tanyaku suatu ketika. Ia tidak lantas menjawab tetapi malah tertawa, tawa yang begitu sumbang, tawa yang begitu tidak enak didengar. Menurutku, ia perempuan sinis, pantas saja ia tidak bisa tertawa dengan manis.
“Kau tahu manusia itu gampang sekali jatuh cinta? Mulanya tidak saling mengenal, lalu saling merasa penasaran, lalu saling mencari tahu, lalu saling bosan, lalu berubah perasaan. Berhenti penasaran. Sikap manusia berubah. Cinta berubah.” Ia nyerocos seperti biasanya.
Bah! Ia pikir ia bukan manusia? Jatuh cinta? Mengapa ia jadi membawa-bawa masalah cinta?
“Hmm.” Aku cuma menimpalinya dengan hmm. Hmm yang begitu panjang. Hmm yang malas-malasan.
“Cuma hmm saja? Tidak bermutu sekali tanggapanmu.”
Apakah ini yang ia maksud sebagai teman cerita?
“Jadi masalahmu apa? Kamu sangat takut jatuh cinta ya.” Aku berusaha menanyainya.
“Aku sama sekali tidak bilang begitu!”
“Kamu sudah bilang begitu!” Aku tahu ia menjadi sebal. Sangat-sangat sebal.
Menurutku ia perempuan yang sangat ekspresif, tentu saja ia akan kelihatan sangat bodoh ketika berusaha menyembunyikan apa yang dirasakannya. Padahal ia adalah pemain sandiwara. Harusnya ia sudah mahir untuk melakukan itu. Tetapi sayangnya ia hanya perempuan nyinyir yang begitu satir.
Pada awalnya aku tidak suka bercerita dengannya atau lebih tepatnya memperdebatkan hal-hal yang tidak penting dengannya tetapi tatapannya, oh aku bisa melihat hujan di kedalaman matanya. Hujan yang membuatku ingin terus membacanya. 

...
November 2015,
@rintikkecil


Thursday, 12 November 2015

Dua Belas November

: Gilang Perdana

Lekat di ingatan caramu membaca hujan di mataku dan keresahan-keresahan itu. Sejauh-jauh pandang bisa kita dekatkan. Sayang, ketika kau mengitari jalan dan kau dapati luka yang beragam, bagilah denganku. Percayalah, aku tidak hanya bisa menjadi teman cerita yang menyenangkan dan menyebalkan. Lebih dari itu, aku ingin melengkapimu. Karena musim akan puisi ketika ada aroma kehangatan yang memeluki.

Selanjutnya menunggu adalah perkara paling susah setelah tabah. Tetapi mengingatmu adalah selaksa dekap yang membuat rindu tatap menatap. Di situ aku ingin menjadi sebab yang diantar waktu, yang layar ke hatimu, yang duduk bersisian denganmu, yang rebah ke pundakmu. Kita akan saling mendengar kabar debar, yang bergandengan meyakinkan; kau-aku tak pernah sendirian.

Maka, rasakanlah harum hujan yang memenuhi kota, yang saling bertaut menyemburkan tiap-tiap rintiknya. Lalu rumput-rumput di pekarangan yang berkilauan, nyanyian dedaunan yang sampai pada ilalang. Mengantarkan cinta ke alamat yang ditujunya. Kau bahkan akan menemukan aku di sana, menjadi yang paling bahagia menyambut dua belas di bulan November.

Selamat ulang tahun. Aku merindukanmu. Sangat. Sungguh. Benar-benar.

November 2015,
Kekasihmu.

Sunday, 8 November 2015

Mengunjungi November


Aku ingin mengajakmu bercakap, sekali lagi. November, getir rindu di antara kalender. Mencacah kumparan angan yang menua karena lupa atau lara. Entah, terlampau jarak untuk ditempuh. Kepura-puraan kita, mendinginkan semuanya, membekukan sapa, menyamarkan ragam tanya.

November, aku ingin membungkus jerit dengan jarit. Menentengnya akhir pekan ke perayaan; untuk kausaksikan atau kauabaikan? Pilihan! kadang-kadang bisa seperti perseteruan, seperti kebisuan yang bingung kita apakan, atau seperti nyala lebam yang susah kita buat padam.

Aku menginginkanmu, November. Kembali menjadi sajak yang bersahaja. Menjadi cahaya untuk cahaya, yang saling meminjamkan lengan ketika ada yang merasa hilang. Di sana ada cinta. Ada kau, aku dan persahabatan di dalamnya.
November 2015
@rintikkecil 

You can hear me in