Monday, 3 November 2014

Mesin Waktu

: kau


/1/

Ini tentang Oktober dan sepotong hujan yang kau suguhkan di kepalamu. Tentang gigil yang menyergap tubuhmu dengan sebuah ketenangan yang luar biasa. Secuil demi secuil dingin ingatanmu pun tercetak, mencari jejak; dedaunan yang terkelupas di tangan musim yang tak mengenalkan akhir. Sementara di tangan penyair pemuja hujan, hujan suguhanmu itu digenggam dengan cara yang paling rahasia. Enggan dibagiceritakan dengan daun, reranting basah, dan langitmu yang selalu abu-abu.

/2/
"Hujan selalu menebarkan aroma kehangatan yang memenuhi dada. Seperti minyak kayu putih," katamu. Lalu kau mengembangkan dada sembari meniup tetes demi tetes air hujan yang mengenaimu. Diam-diam aku sering mencuri hangat itu. Sekujur hangat yang membelah, memantul, menggelepar ke hatiku.

/3/
Kau terpengarah, bergegas melukis gelombang hujan dengan tangis yang mendesing. Pikiranmu sibuk mengaduk berhelai rindu yang lapuk. Matamu menyimpan berjuta riak kecil yang mengalun lembut sepeti kabut. Seperti puisi yang bisa menuliskan arti berlega hati. Atau seperti cinta yang akan memelukmu dengan doa.

/4/
"Lalu apakah itu hujan?" ialah mesin waktu yang kerap memanggil debar, serakan lara yang nganga, juga tumpukan rindu paling berdebu. Semoga, mencintaimu tidak membuatku ngilu.


Oktober, 2014.
@rintikkecil

Thursday, 9 October 2014

A Letter From October to Lanang

“If you lose something good, you deserve for something better. What you just need is improving the quality of yourself.” Lanang, how many times should I say thanks to you? With the fullest of your heart you always spending time to recharge my power. And yes, you are right! The person that really loves me will never let me go no matter how hard to understand me as a super persistent women in the world, a super annoying women that always need to be convinced, convinced, and convinced. Again, again and again, like just you said :p entrusting heart is not an easy matter. That’s why I am so sick of several things that related to something nonsense. Finally, for the second time, I should say this to you again, “Without worries, I will live on my own way. I do. I always do.”
“Be silly! So that there will be something to tell, to learn, to share and to laugh in future.”
I always respect people that can keep a trustworthiness. That’s why I trust you. “In this life there will be people that easy come and easy go on your life.  But, there will also stay people that always be on your side for a lifetime. A family, some of good friends, and someone that will Allah send for you in a perfect time and a perfect way!”
By the way, for this season what do you want to me to do? As a compliment?
“Change your disappointment with forgive.”
“And smiling,” you added.

Wednesday, 10 September 2014

Catatan Sore

: kepada daun yang jatuh lalu mengering

Kubiarkan angin menerbangkanmu, setangkup pesan yang tak mudah menjejaki arti; diam yang teka-teki. Barangkali tajam ingatan adalah penuntun bagi waktu yang ramu makna. Pada belasan purnama yang dekap tanya. Tentang gamang yang ingin dimengerti langit jauh. Juga tentang ketidakpastian yang membilang ayal.

Di bangku tua ini, imaji berguguran. Rona senja lindap di bahu gelap. “Kaukah cahaya?” tanyamu dari ujung sana. “Bukan! Aku adalah bunga yang tak takut lapuk. Maka akan kujadikan kau musim yang tak mengenalkan akhir.”
Karena setiap akhir adalah mula. Dan sebermula adalah gembira yang akan kita bagi, di sebuah hari yang telah kita nanti.

Dari aku yang sedang belajar memahamimu, 04 September 2014


@rintikkecil

Friday, 22 August 2014

CERPEN : Secangkir Hujan di Bulan Desember

Ini adalah versi cerita pendek dari puisi saya yang berjudul "Secangkir Hujan Desember Ini"
You can read it in http://rintikkecil.blogspot.com/2013/12/secangkir-hujan-desember-ini.html

Pagi yang gerimis, kutanak rindu di tepian matamu,
di sederet kisah yang luber pada hujan di bulan Desember.

Sudah bulan Desember rupanya. Itu berarti langit akan lebih mendung dari biasanya, hujan akan lebih deras dari biasanya, dan ingatanku tentang kita akan lebih menggenang tentu saja. Oh maaf, aku ralat. Sekarang hanya akan ada aku dan kamu. Tidak akan ada lagi kata kita. Hei, apakah kamu pernah mendengar kisah tentang sepatu yang mengaduh di musim paling gersang? Di musim yang membuatnya sedih, dan ia hanya mampu menyimpan dan menceritakan kesedihannya untuk dirinya sendiri. Begini ceritanya. Ketika itu dingin menempel di tubuhmu, di kakimu.  Kamu menatap hujan dengan tatapan mengutuk. Kamu tidak bisa berlari, tidak bisa terburu-buru karena hujan sedang menghambat langkahmu. Kamu sangat benci basah. Kamu sangat tidak menyukai hujan. Aku sangat tahu benar itu.
“Matahari begitu terik tetapi hujan justru turun dengan sangat derasnya. Hujan yang datang terlalu terburu-buru saat rumput tak terlalu rindu dicumbu basah. Hujan di musim yang tidak tepat,” katamu. Kamu menengok sepatu hitam usang yang kamu kenakan hari itu. Lalu kembali menggerutu, mencibir hujan.
***
Sudah hampir pukul satu siang, tetapi kamu belum juga datang. Padahal di pesan singkat yang kamu kirimkan untukku semalam, kita akan bertemu di sini tepat pukul dua belas. “Lelaki sepertimu sangat menghargai waktu, kecuali... ’’ aku melemparkan pandangan keluar jendela untuk melihat langit dan ternyata benar langit memang sedang hujan. Tiba-tiba aku jadi membayangkan ekspresi wajahmu yang lucu sekaligus menjengkelkan itu.
“Lelaki sepertimu pantas saja tidak bisa menyukai hujan,” ucapku suatu ketika.
“Lelaki seperti apa?” kamu memandangku dengan tatapan garang.
“Lelaki dingin, judes, tidak ramah, nyebelin. Ah, nggak banget pokoknya,” seperti biasa aku bicara tanpa titik koma tanpa takut menyinggung perasaannmu. Aku sudah terlalu mahir melakukannya dan kamu juga terlampau hebat menanggapinya. Aku dan kamu sudah terbiasa seperti itu. Kita sudah bersahabat sejak lama. Biarpun kamu sangat menyebalkan tetapi aku sangat tahu kamu adalah lelaki yang sangat baik. Dan satu hal penting yang aku tahu adalah kamu selalu ada buatku.
“Padahal bukankah hujan juga yang telah mempertemukan kita? hujan telah menjadikan hidup menjadi lebih hidup, menghadirkan milyaran inspirasi untukku menulis, dan... ”
“Hari ini kamu cerewet sekali,” kamu memotong pembicaraanku.
“Bisa nggak sih sekali-kali jangan memotong pembicaraan orang?” aku memanyunkan muka.
***
Langit
Ara pasti sedang cemberut menungguku. Perempuan yang mencintai hujan itu tidak pernah suka aku terlambat. Tetapi hari ini aku sedang terjebak hujan. Aku tidak suka basah tetapi aku juga tidak suka memakai payung. Aku  jadi teringat kisah patah hati yang perempuan itu ceritakan padaku di dua jam obrolan telepon semalam. Hari ini ia memintaku mendengarkan segala keluh kesahnya. Entahlah, aku sangat suka mendengar ia bercerita.
Ia pencerita yang sangat baik. Matanya selalu hidup saat ia bercerita meskipun dalam cerita-ceritanya hanya ada luka dan kepedihan yang ia pelihara, yang seharusnya tidak pernah perlu. Ia sungguh sudah terlalu cerdas untuk memanjakan lukanya. Ia begitu sejak ia resmi jatuh cinta pada seorang lelaki dari negeri dongengnya. Dongeng yang hanya pernah ia ciptakan sendiri. Aku masih sangat ingat, lelaki yang disebut-sebutnya mirip Andy Lau, seorang penulis yang pernah ia kenalkan padaku satu tahun yang lalu itu. Ah bagaimana bisa ia jatuh hati pada lelaki seperti itu? Ia jatuh hati karena lelaki itu memiliki wajah yang mirip Andy Lau? Idolanya itu? Itu sinting! Itu gila! Itu benar-benar tidak masuk akal!
Lalu ia patah hati ketika cintanya bertepuk sebelah tangan. Sejak saat itulah, aku tahu kenapa puisi-puisi yang ditulis olehnya seperti menangis. Rupanya perempuan itu melahirkan puisi dari air mata dan luka.
Ara, aku tidak bisa berhenti mengeja namanya. Perempuan itu adalah pencerita dongeng yang ditakdirkan untuk membuatku tergila-gila.
***
Aku benci menunggu, kamu sangat tahu itu kan? Awas saja. Aku pasti akan memberikanmu pelajaran jika kamu datang nanti. Tetapi sebenarnya sekujur rasa khawatir tengah dengan cepatnya mengerubungi dan menguasai diriku. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan dirimu. Oleh karena itulah, aku memutuskan untuk meneleponmu saja. Lama. Kamu tidak mengangkat telepon. “Kamu tidak mungkin lupa jalan kemari kan? Bodoh sekali jika sampai tersesat,” aku mendesis.
            Oh, aku ingat dengan beberapa puisi yang baru saja kutulis dan ingin kutunjukkan kepadamu. Banyak juga kisah baru dalam perjalanan hidupku yang harus kamu dengarkan. Entahlah, kamu adalah pendengar yang baik. Sangat baik malah. Aku senang ketika sedang bercerita kepadamu. Kamu bahkan tidak perlu untuk berkomentar apapun apalagi mengasihani kisah patah hatiku saat ini.
“Kamu jatuh cinta?” kamu menertawakanku suatu ketika.
“Kenapa kamu tertawa? Apakah jatuh cinta adalah sesuatu yang lucu?” menertawakan sesuatu yang sama sekali tidak lucu, itu jelas sekali namanya lancang.
Lalu kamu mengamatiku dengan lekat-lekat. Tatapan yang sama sekali sangat tidak kusukai. Menjijikkan.
“Dia seperti Andy Lau,” cetusku. “Dan ini adalah untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Akan kuabadikan momen ini dalam buku harianku. Aku pertama kali jatuh cinta tepat ketika aku berusia 20 tahun.”
Aku tidak memberikan kesempatan untukmu menyelaku. “Ini tidak mungkin salah. Aku sangat tahu benar bagaimana rasanya jatuh cinta, persis seperti di novel-novel roman yang pernah aku baca. Seseorang yang jatuh cinta pasti akan lebih susah melakukan segala hal, termasuk ketika makan dan tidur. Mereka yang jatuh cinta akan selalu memikirkan seseorang yang dicintainya itu. Waktu bersama ketika bersamanya akan terasa sangat singkat sedangkan ketika berpisah, ah begitu terasa sangat panjang. Mereka akan berbunga-bunga sepanjang hari, terutama ketika mendapat ucapan selamat pagi dan selamat tidur. Terkadang mereka juga akan gelisah dan cemburu-cemburu tidak jelas. Level penasaran tentang segala hal yang berkaitan dengannya akan menaik drastis. Kamu bisa bayangkan itu? Ah, tentu saja tidak. Karena lelaki sepertimu tidak pernah mengalami rasanya jatuh cinta, bukan? Sedangkan aku, aku saat ini sedang mengalaminya.” Aku sangat menggebu-gebu bercerita.
Seketika aku benar-benar seperti sedang mendengar suara kamu. Benar sekali. Itu kamu! Aneh sekali. Hari ini kamu kuyup. Apakah kamu benar-benar menerjang hujan? Aku bahkan tidak bisa mempercayainya.
“Langit! Ke sini!” Aku melambaikan tangan ke arahmu.
***
Langit
Sudah jam satu dan hujan tak kunjung juga reda. Malah semakin deras. Aku takut Ara akan marah. Maka untuk pertama kalinya aku memutuskan untuk menerjang basah. Aku berlari, melompati genangan demi genangan air yang mengambang di jalanan. “Sudah hampir sampai,” gumamku.
            Aku juga melihat Ara. Oh, tidak seperti hari-hari biasanya. Hari ini ia mengenakan baju dengan warna yang paling ia hindari. Hitam. Tidak mungkin melesat lagi. Ia pasti sedang tidak baik. Perempuan itu punya kebiasaan yang aneh, ia seringkali menyerasikan warna baju dengan suasana hatinya. Jika langit sedang mendung, ia akan memakai baju berwarna abu-abu. Jika cerah, ia memakai baju kuning. Warna ini menggambarkan ini. Warna itu menggambarkan itu. Masih banyak hal yang susah kutebak. Tetapi satu hal yang paling aku tidak ketahui adalah ketika ia tiba-tiba memakai baju berwarna merah jambu. Apakah hatinya sedang merah jambu?
            Saat ini sudah bulan Desember. Ia memakai baju berwarna merah jambu ketika bulan Desember yang lalu. Itu menandakan sudah satu tahun. Sudah satu tahun ia tergila-gila dengan lelaki pujaannya itu. Segala cerita yang meluncur dari bibirnya begitu menderas seperti hujan. Padahal jatuh cinta yang pertama kalinya ini sekaligus membuat ada seseorang yang seketika patah. Aku. Jadi sangat salah bukan ketika ia dengan secara frontalnya mengatakan aku tidak mengerti rasanya jatuh cinta? Aku bahkan sudah mengalami. Jauh lebih dulu daripada ia. Iya. Tanpa ia sadari.
Tetapi semalaman ia terisak. Menangis tersedu-sedu. Perempuan itu bilang, ia sedang patah hati. Ah, betapa mungkin perempuan sepertinya dicampakkan? Cintanya bertepuk sebelah tangan.
Aku melihat perempuan bermata bintang itu melambaikan tangan. Aku menghampirinya.
***
Astaga! Kamu basah. Kamu menerjang hujan. Aku masih tidak percaya itu. Aku merogoh kamera dari tasku. Memotret. Mengabadikan momen paling langka ini.
            Terus terang saja. Ada beberapa hal yang mengharuskan aku untuk menunjukkan rasa marah padamu. Tetapi lagi-lagi. Betapa aku tidak bisa. Aku kasihan melihatmu terlilit gigil seperti itu.
            “Biarkan kupesankan cokelat panas untukmu dulu.” Aku membuka percakapan.
            “Kamu tidak marah?”
            “Untuk?” aku pura-pura tidak mengerti.
            “Ya karena aku hari ini terlambat. Kamu pasti sudah menunggu cukup lama, bukan?”
            “Bukan cukup. Tapi sangat lama sekali.” Aku sangat jengkel mendengar kamu mengucapkan kalimat cukup dengan entengnya.
            “Oke. Jadi kenapa dia meninggalkanmu?”
            Betapa sungguh tidak sopannya kamu. Sudah datang terlambat. Tidak minta maaf. Tidak merasa bersalah. Dan sekarang menanyakan sesuatu dengan tanpa beban seakan menanyakan kamu sudah makan atau belum?
            Mendadak aku jadi ingin cepat minggat saja dari tempat ini. Manusia dingin sepertimu, sebaiknya diapakan? Aiiiih...
            “Jangan cemberut gitu ah. Oke aku minta maaf. Banget!” kamu menangkupkan kedua tanganmu.
            Aku sama sekali tidak tertarik dengan kata maaf. Aku lebih tertarik dengan apa yang terjadi pada sepatumu.
            “Kamu tidak pakai sepatu? Sepatumu kemana?” aku bertanya penasaran.
            “Rusak. Langkahku semakin terhambat karenanya,” kamu menjawab
“Jadi kamu membuangnya begitu saja?” aku tidak bisa untuk tidak mendesak kali ini. “Itu sepatu yang kuberikan pada saat ulang tahunmu yang ke 23. Serusak dan sejelek apapun, harusnya kamu tidak membuangnya. Kamu cukup menyimpannya dan itu bisa membuatku bahagia. Bukankah aku pernah bilang seperti itu padamu?”
***
Langit
Hanya karena aku membuang sepatu usang pemberiannya itu. Ara sangat marah padaku. Marah sekali. Perempuan itu kerap menerapkan peraturan-peraturan aneh. Tetapi justru itu yang membuatnya terasa istimewa untukku. Jika katanya, sepatu itu mempunyai kisah sedih yang hanya bisa disimpan dan diceritakan untuk dirinya sendiri. Maka ada satu hal yang harusnya juga perlu ia ketahui. Di luar sana sedang hujan, seorang lelaki dingin kedinginan berharap perempuan bermata bintangnya kembali. Lelaki itu kerap menyeduh hujan dan kisah cinta diam-diam yang hanya mampu dipendam. Untuknya sendiri.
Rupanya tidak butuh waktu lama untuk membuat aku dan ia, menjadi kembali asing.
Aku melangkah tanpa takut lagi terkena basah. Aku sayup yang tak pernah takut lagi menjadi kuyup. Aku adalah dingin yang ingin mencintainya tanpa harus diam-diam lagi. Dalam hujan aku menari, sembari merapalkan sebuah nama yang menjadi namanya. Ara.
Yang menghimpun banyak ingatan adalah kenangan.
Sedangkan aku adalah rindu yang pecah dari langit yang gemuruh itu.

Kini aku tahu apa yang harus aku lakukan. Menjemputnya. Mengatakan segalanya. Sebelum menyesal. Sebelum semuanya menjadi lebih menyakitkan.

Wednesday, 12 March 2014

Pada Sebuah Pagi

: Gilang Perdana

Pada sebuah pagi, ada selaksa haru yang labuh. Memeluk gaduh sebaris kalimat yang kaubangun dengan segenap sungguh. Seperti mengemasi sisa hujan di atap-atap yang berkarat, kau riuh. Menarikku berdansa bersama kata yang tak sekadar kata-kata; yang jelma kita.

Kau, pemilik kata yang terangkai teduh itu. Dalam bingkaimu, aku menemukan musim yang rekah, yang menghamburkan rona merah jambu. Di sana puisi menyalakan rindu, dalam sepotong temu yang paling ditunggu. "Satu-satunya alamat yang akan kutangkap nanti adalah binar matamu, yang pendarnya mampu menulis bacakan aku."

Pada sebuah ingin yang begitu sederhana. Larik-larik tentangmu memekik liris serupa gerimis. Lalu kau-aku berpelukan di bawah hujan, di beranda rumah; kita.

Sungguh! Terberkatilah semesta, atas segala alur yang luar biasa.


Malang, 07 Maret 2014 (06:45)

Wednesday, 26 February 2014

Di Pelataran Tempo Hari

: Gilang Perdana

Di pelataran tempo hari, kudapati deru itu mengaduk berhelai kata yang lapuk. Serupa resah yang dentum, di sulur-sulur langit ingatanmu. Sesaat, ketika sejumput sesak mengepul isak, merunut lalu yang melayang sampai ke permukaan matamu. Di bawah kelabu, jemu yang terlalu, kenang yang lirih mengepak perih.

Jauh mengangin, sendu malam di kabut tak terjangkau itu. Kubaca berbaris elegi yang ditulis rapi, untuk sebuah nama yang mengarungi berbilang rindu. Di segala tak ingin yang menertawai satu hari, yang menyibakkan pendar-pendar lara. Seperti cahaya kecil yang redup dari binar matamu, yang diam-diam gugur bersama daun. Sesaat, ketika ada yang merintik pelan-pelan di secangkir kopimu yang sudah mulai dingin itu.

“Hujan,” katamu. Itu aku yang mencoba menabrak kaca jendelamu. Menari berputar bersama angin yang ingin, menyampaikan sebuah pesan yang semoga tak akan terlambat datang. “Tersenyumlah. Berbahagialah.”

Untuk kau-aku yang sama-sama percaya selalu ada yang dipersiapkan lebih baik,
Malang, 26 Februari 2014 (20: 22)

Semangat menyambut kepulangan esok ke kotamu, Solo.

Salamku,
@rintikkecil

Saturday, 22 February 2014

Resah

Kepada perempuan terhebat dalam hidupku,

Bukankah di sana sedang musim dingin Ma? Jangan lupa untuk selalu memakai jaket yang tebal saat pergi kemana-mana. Jangan lupa juga untuk mandi dengan air hangat. Perihal hujan abu kemarin, kami di sini baik-baik saja. Mama tidak perlu secemas itu.


Homesick tidak harus selalu pulang ke rumah ya Ma, cukup dengan obrolan kita lewat sejam atau dua jam di telepon. Aku kemarin tidur lebih cepat dari biasanya, mungkin karena terlalu lelah. Oh aku jadi ingat tentang pertemuan kita di mimpi. Tentang Mama dan hangat selimut yang Mama letakkan di tubuhku. Juga tentang peluk dan cium yang menguatkan aku. Tentang bisik yang pelan tetapi masih jelas kudengar. Lalu segenap resah itu jauh dibawa angin ke langit paling entah.

Mama aku rindu, aku mencintaimu. Terima kasih untuk membuatku bisa melihat sesuatu menjadi lebih dekat. Iya, aku pasti bisa. Masih banyak yang harus kukejar dan kuwujudkan. Aku ingin bermanfaat bagi banyak orang.

Ah senangnya. Sudah tidak sabar rasanya tahun ini untuk bisa bertemu dengan Mama.

Dari Indonesia yang selalu merindukanmu.
Malang, Februari 2014.

Friday, 21 February 2014

Dear Lanang

“Don’t too much thinking about what they are thinking and talking about you. What they know is just your name. Not you. Not your life. Come on, you are beautiful with your own way.” Lanang, it has been so long I am not get kind of sentence that can return my confidence. And yes, you are right! I always have a choice in this life; to stay or leave. I know, what I need is  the real ones who can appreciate me for who I am. Thank you for make me feel better. I really need that kind of support right now. *Big Hug*

No more drama. No more tears. I promise, I will back to be the real me. Without worries, without fears. Hey, I am not just pretend to be okay. I am completely okay. I promise, I will enjoy for every single moment I have. 

One thing added before forget, I know I need a line as border. Just like what you said, it’s not worth for me waiting for him that can't give a certainty. I will meet someone that afraid to lose me. A guy that can bring a warm smile and can fix the aches and pains. A guy that can handle me even at my worst. A guy that can make you say, "Hold him. He will bring a happiness for you." From now on, I am surrender, and lead a new world has begun. *Take a better breathe*

Lanang, you are not fake. That’s why I trust you. Let's just talking without judging each other. Let’s become a good friend forever. Wait, suddenly I remember our last conversation. Hahaha well as my compliment, I will sing this song for you tonight.
...
♫ And if you don't mind, can you tell me all your hopes and fears. And everything that you believe in.. Would you make a difference in the world. I'd love for you to take me to a deeper conversation. Only you can make me.. ♫

P.S : Btw, I like your name. I will make your name as my future child’s name. Someday :p

Thursday, 20 February 2014

Dongeng Sebelum Tidur

Untukmu sahabatku yang lucu,

Tyas jangan bersedih. Karena kamu akan terlihat lebih manis bila tersenyum dan kembali ceria. Tenanglah, tidak ada yang perlu kamu cemaskan. Apalagi mencemaskan hal-hal yang tidak pasti. Life is all about how can we enjoy it, right? Bahkan kamu sendiri yang sering mengatakan kalimat itu kepadaku. “Kita harus jadi perempuan yang kuat. Karena kita tidak layak untuk didera,” katamu.

Semoga surat ini bisa sedikit menghiburmu ya. Hei, bukankah kamu sangat suka membaca dongeng sebelum tidur? Maka, di surat ini aku akan menceritakan sebuah dongeng yang belum pernah kamu baca sebelumnya. Karena dongeng yang akan aku ceritakan ini adalah dongeng yang kutulis sendiri khusus buat kamu. Dongeng yang bisa kamu taruh di antara dongeng-dongeng yang pernah kamu baca sebelum tidurmu. Kamu juga bisa menyelipkannya di helai-helai mimpi kamu. Semoga hanya ada mimpi indah yang tersangkut di sana.

Ini adalah kisah tentang putri hujan dan pangeran payung dari negeri awan. Putri hujan sudah lama hidup sebatang kara, resmi semenjak takdir mencatat kepergian raja dan ratu langit. Sungguh kasihan, ia menjalani hari dengan berteman sepi. Hal yang dapat dilakukan Sang Putri adalah menunggu. Menunggu pelangi selepas hujan. Agar langitnya bisa menjadi lebih berwarna. Sampai pada suatu hari, bertemulah ia dengan seorang pangeran. Pangeran payung namanya. Seperti pelangi, hari-hari Sang Putri berubah menjadi warna-warni. Tetapi sayang, itu tidak berlangsung lama. Penyihir gigil dari ladang paku rupayanya tidak rela jika Sang Putri bisa bahagia. Apa yang akan dilakukan penyihir gigil yang licik itu? Cerita lengkapnya akan aku kirim via email ya. Aku sedang agak sibuk. Akhir-akhir ini aku sering lembur.

Berjanjilah untuk tidak sedih lagi. Kuhitung sampai 3.

1, 2, 3. Senyum? :)

Wednesday, 19 February 2014

Sepucuk Surat Rindu

Di sebaris kata pisah, ada yang lebih resah.

Sepucuk surat rindu, yang tak pernah sampai ke tanganmu.


Rindu, anggap saja namamu begitu. Kemarin sore hujan di kotaku sangat deras sekali. Seperti biasanya aku bandel. Aku pergi lupa membawa payung. Aku tidak punya cukup waktu untuk lama-lama menunggu hujan reda. Seperti biasanya pula aku menerjang hujan. Tenanglah, aku sudah bersahabat lama dengan hujan. Jadi kamu tidak usah perlu lagi mengkhawatirkanku karena terkena flu.

Aku yang sekarang sudah cukup mandiri untuk mengerti apa yang harus kulakukan. Seperti kata-katamu dulu, aku harus selalu punya stock banyak obat flu di rumah. Sehingga aku tidak perlu bingung ketika sewaktu-waktu aku membutuhkannya. Apalagi saat tengah malam. Masih ingat pukul 2 malam itu? Malam dimana aku kalang kabut menelponmu hanya sekadar untuk bilang. “Aku butuh obat flu dan segelas air hangat.” Aku meneleponmu karena kupikir cuma kamu yang bisa menenangkan aku. Kalau sekarang? Tentu aku tidak punya alasan lagi untuk meneleponmu jam segitu. Ah, sudahlah!

Aku pernah sebal karena hujan kerap membuatku flu. Tetapi saat ini aku sedang lebih sebal. Tahu kenapa? Aku cemburu. I’m jealous of the rain that can running down and touch your hand early. 

Demi apapun, jangan anggap ini surat cinta. Ini hanyalah surat rindu, yang tak akan pernah sampai kepadamu.

Kotaku yang sedang hujan, Februari 2014.