Tuesday, 12 February 2013

Kala Itu

Ada yang bersanding dengan cakrawala, di puncak ini

Ada yang ingin tumpah dari penantian sana
Selaksa biji-biji hujan yang meraung kehausan
Di antara titik dan lengkung catatan
Yang sengaja di guratkan dengan pecah kaca yang basah
Merah yang merah, semerah luka, tak terbaca

Cericit burung di ketiak pinus
Meraba tanya, pucuk-pucuk, apakah kuncup atau hijau baru
Alam merintik lagi, haruskah menjadi setangkai teduh atau mungkin bah
Kemudian petang yang jalang
Meluruhkan sekelumit serak yang menggantung di bibir malam

Seikat edelweis, angin yang melangu di sapu dingin
Hangat perapian pun semakin tempias digenangi kabut yang mengabu
Adakah kepergian kembali pulang, membawa pasti kerinduan
Hingga sepercik aku tersihir harum, kembang gula yang gerimis
Dari angin yang mencium dedaunan, yang paling memesona


(Reposting, Malang 2011)

Selewat Puisi


I
Ada yang terlewatkan sedikit tentang
Ranggas rasa dalam kemarau
Saat daun-daun mengering diam-diam
Memeran warna serupa helai jagung
Melahirkan sentuhan gersang yang terengah-engah
Karena hanya diukir setengah-setengah
Hingga entah ini resah, merindu basah
Mendamba dingin yang maya
Dari balik layar langit
Ada yang menyala biru
Yang tak pernah kunama-nama

II
Ada yang tak pernah cukup dan selalu kurang
Kemudian memberi kesan serta-merta
Lekuk-lekuk puisi memeran porsi lebih
Bergeming, berkedip-kedip, mengabu-abu
Pada akar-akar
Ada yang dipermainkan angin
Sebentar-bentar panas
Sebentar-bentar dingin
Mau begini sampai kapan?




Malang, Januari 2013

Gandrung


Pada beranda rindu, diammu menculik aku manakala kilap purnama menerobos jendela. Pun warnamu semakin serupa mentega, menancapkan gigil pada bunga. Kemudian dingin berpestapora.
: Kau adalah rerintik yang mengeruhi pori-pori awan milik langit paling biru

Puisi berjatuhan, melautkan harum yang hujan atau hujan yang harum. Tergelincir aku dalam mantra-mantra, kata cinta. Menghindari basah pun percuma.

Kau (kah?) gandrung, menyemarakkan malam menjadi nada. Menyihir aku menjadi kata. Melarung kau-aku menjadi sonata.

Aku pun gandrung. Untuk kesekian kalinya : padamu.


Malang, Januari 2013

Selaksa Rindu


I
Musim gugur menerbangkan selaksa rindu kau-aku yang menahun terbungkus rapat oleh tangkai huruf yang membingkai tungkai. “Kenapa kau tinggalkan kami?” tanyaku dengan tak bisa menyembunyikan desis angin yang menyungkurkan kemilau nyala lilin di mataku. Padam seketika.
Di antara dedaunan yang bisik, gemerisik angin pun mengabukan debu-debu. Hingga tersudutlah ke remah-remah cahaya. Lalu terseret. Jatuh. Menetes sepi.
II
Waktu terus mengeja hari. Detik mengeja yakin. Menit mengeja percaya. Pun jam-jam tak terhitung itu, tak pernah bosan mengajarkan aku tentang mengeja paham. Waktu pulalah yang mengantarkan kau-aku pada pergantian musim.
Wahai musim hujan yang kuyup: yang membuat basah mata. Doa-doa di antara dentingan kosong-kosong tiga belum sempat kutengadahkan. Tetapi mengapa kau telah lebih dulu melesat dengan keretamu? “Aku bahkan masih ingin jamaah subuh.”
“Kau tak perlu mengantarku dan menyempatkan duduk di bangku peron stasiun Tugu,” katamu.
III
Ketika selaksa rindu makin menebar syahdu. Dan air mata hanya bisa kukubangkan di pinggir rel tua.
Musim kemarau adalah musim paceklik dimana aku sudah harus cukup mandiri, menumpuk sendiri, balok-balok mimpi tanpa petuahmu. Kuning kunang-kunang pun diantar debur angin. Kudengar suaramu yang serak. Katamu hidup adalah puisi. Kita tak akan pernah bisa berhenti menulis dan membacakan sajak.
IV
Aku tahu kau bukan malaikat. Kau tak bersayap. Tak bisa terbang. Dan kakimu menginjak tanah. Aku pun juga tahu kau bukan perempuan yang menyulam pelangi. Kau bahkan tak pernah membacakan dongeng putri tidur untukku kala musim semi.
Lembayung mencumbu mesra bibir langit. “Aku telah bertemu pangeran itu.” akan tetap kutitipkan pesan ini pada ranting pohon padamu. Suatu saat nanti.
V
Lintingan cengkeh. Buih kopi. Kemana (kah?)
Musim hujan sudah datang lagi. “Kami merindukan hangat pelukmu.”


Malang, Januari 2013

Secangkir Isyarat


Kuterka tamparan hujan sore itu dengan merangkai kembali keping kata yang berantakan oleh kabut hingga tangkai demi tangkainya mengiring basah aku untuk mendentingkan seutas getir rasa yang kau tata rapi di antara  komposisi nada dan simfoni yang memukau. Kaukah yang kemarin datang memayungiku kala rintik-rintik itu menyapu sudut cemasku? Aku memandangmu kembali untuk alasan yang tak mau kukenali. Dari hari, minggu, sampai bulan-bulan menjemukan.

Debur angin, dingin cuaca, beku aksara, kedap suara meraba tanda pertautan hati. Pun manis goresan pena dan sepotong cerita yang dibawa hujan mencuat mesra di antara tingkah langit yang mulai ribut sendiri, mencuri pandang cakrawala hingga nanti tiba saatnya tungku perasaan siap memanggul hangat dan teduh kalbu mencacah deras jeram yang mencengkeram gemuruh di tiap bentangan jarak. Bisakah kita menyeberang bersama-sama? Menjadi dekat, rekat dan erat.

Mungkin saja aku terlanjur salah mengeja isyarat. Lama-lama mengkristal, bersaput air. Harusnya aku sudah menyingkir di delapan menit sebelum keberangkatan. Tapi warnamu tak mau dipersamar hingga keheningan pun menjadi indah terdengar. Benar (kah?) ini adanya, hujan bersimpangan dengan teduh. lidahku kelu. Pun angin tak hanya sekedar dari kiasan yang tak perlu kita mengerti maknanya. “Aku kehilangan kamu.”


Malang, Januari 2013

Kaleidoskop Warna


Sanggupkah aku membirukan senja?
Tunggu aku di persimpangan musim

Secangkir harapan tumpah di tiap lembar hari
Selaksa warna kisahnya berpendar di tepian cakrawala
Pun seutas senyum dan sapa hangat tak luput menghamparkan percakapan silang
Perihal tulip dan musim semi

Dan perlahan kita semakin merekatkan jemari
Setelah Keukenhof menapak jejak dari senja hingga dini
Hingga cahaya kuning temaram memudar
Hingga damba sia-sia terbenamkan
Gugur satu per satu bersama warna bunga yang memesona arakan awan
Menjelma menjadi aku, kamu, dan kubang rindu

Maka di setiap laju yang kita kayuh
Kita akan mendamparkan diri dalam larut
Membaur dalam pelukan hamparan puisi keindahan
Kemudian merangkumnya menjadi kaleidoskop perjalanan hati


Malang, Januari 2013

Sekuel Januari


“Adakah aku di sana? Perlukah aku menatap tunggu di sana?”

Awan kelabu gamang meraba-raba potongan kalimat itu
Raut rembulan tersandung murung
Disesaki imaji-imaji yang terdengar picisan
Ingatkah wahai Desemberku?
Rapuh tak hanya berarti usai
Tetapi juga titik pertemuan setiap sekuel yang perlu ditunggu

Pada serat-serat benci yang menumpuki kelam langitmu
Selalu saja ada seiris jujur yang tumpah bersama siraman hujan
Meski terkadang seonggok bosan menginginkan berhenti
Aku yang mengalami apa yang kamu alami
Yang menginginkan pertemuanmu dengan bintang selatan

Sebuah desiran yang tak kukenali merayapi tulisan tak berspasi
Seharusnya aku tak perlu bertanya lagi
Pun kamu dan berserakan getir satire
Kita bisa cipta bersama sekuel dari kalimat tanya itu
“Januari? Ya, Januari.”


Malang, Januari 2013

Perihal Diam Yang Tak Berarti Diam


Pada sederet angka yang tertahan hujan
Sekelebat ingin buyar merunut setapak jalan
Hingga kata pun rasa serupa gelitik petir
Lumpuhkan senja yang mulai dibias temaram
Dan pelangi sibuk menekan tombol tunda

Ada getar yang merayakan sulutan sepercik api
Lalu menjalar menciumi daun, ranting hingga akar
Usailah, cetak biru hangus menjadi abu
Lembar-lembar sketsa hanya mau mencetak rupamu

Kepada entah aku hantarkan ribuan pertanyaan
Hujan pun tak henti-hentinya kumaki
Langitku semakin kumal diseruduk keparat
Menelanjangi inci demi inci waras
Dan sia-sia: denyut ini tetap tak mampu disumbat

Ketika diam tak benar berarti diam
Membelenggu hening yang dingin
Menguras lelah akan amarah
Kemudian larut di ruang tak bernama
: adakah aku di sana?


 Malang, Desember 2012

Gerimis Untukmu


Ketika diam mengecup keterasingan
Menjerat rindu yang mendadak beku
Memancing dilema di antara ujung jengah
Kemudian tersedak pada dua kata: tahu diri

Pada detik-detik yang mencumbui keluh
Selalu saja ada sekat yang membatasi dekat
Sapa manja hanya terjepit basi
Memangku sepi: sendiri

Cuaca hati tak secantik kemarin
Mendung menampar pesona langit biru
Menggoreskan sepatah rasa yang patah
Juga lara yang meluruh menjadi
: Gerimis untukmu

Malang, Desember 2012

Puisi Terindahmu


Sekelumit rindu berdesir mesra
Di antara selembar catatan dan pena
Kamu membaur di sana
Mengguratkan milyaran kata

Jarak menyekat tatap
Menunda jumpa
Terkepung gelap
Gundah gulana

Yang tersisa hanya segulung bait sepi
Yang menumpuk menjadi sajak usang
Akankah datang inspirasi?

Ketika dingin menjadi ingin
Aku pun ingin
: Menjadi Puisi terindahmu


Malang, Desember 2012

Suratku

Sampaikan kepada dia, sebaris pesan cinta yang kutulis, kulipat menjadi perahu kertas, kulayarkan ke kali. Suratku, menggelepar-lepar bagai ikan yang menenteng senyum  tak sabar bertemu dengan rajanya. Sesekali, suratku tersangkut di batang pohon yang terbuang, dan terpegoklah ia oleh katak kecil bermata nanar: jangan kau baca isinya. Bukan untuk kamu. Ini rahasia.


Kala hujan, ada satu hal yang dicemaskan: bagaimana kalau tulisan tanganku luntur, bagaimana kalau lumut-lumut hijau yang tidak tahu aturan itu menempeli suratku, bagaimana kalau pesanku tak akan bisa lagi terbaca. “suratku pasti akan kesal, menjerit-jerit tak keruan”.

Melaju. Terhuyung-huyung. Ditiup angin. Sempoyongan. Didatangi gerimis. Menangis. Ditotol itik. Robek. Terkena lumpur. Kata mengabur. Kena banjir. Tenggelam. Dipungut bocah-bocah kecil. Duh jangan.

Hai suratku, berjuanglah!

Malang, 11 November 2012


Untuk Sebuah Nama

Selapis gerimis tipis bicara
Dalam emosi yang tak bisa dikendalikan
Lalu memungut kosong jiwa
Yang menyisip di antara bait-bait kesendirian

Kotaku hujan seperti biasanya, meluap tanpa permisi
Bahkan di saat tak kubawa payung, tapi tetap kucinta
Bersama hujan aku menari; aku bahagia
Dan sebaris sapamu
Kupercaya bisa cairkan suasana

Karena hujan, aku jadi ingin menulis tentangmu
Yang hadir lewat puisi keindahan
Lewat metafora yang sering tak kumengerti
Lewat isyarat yang tak pernah bisa kusentuh
Lewat warna langit yang selalu gagal kutebak

: dan tak akan pernah habis cerita tentang kamu, sosok yang aku kagumi di luar batas pemahaman

 Malang, 20 Oktober 2012